Evaluasi Kinerja Tata Kelola TI
Terhadap Penerapan Sistem Informasi Starclick Framework COBIT 5 (Studi Kasus:
PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk Semarang)
Pengukuran
tingkat kemampuan pada perusahaan PT. Telkom Semarang berdasarkan analisis
terhadap hasil wawancara, observasi serta bukti-bukti yang ada dilapangan
dengan menyesuaikan kerangka kerja COBIT 5 terhadap beberapa responden yang
terkait langsung dengan sistem informasi “Starclik”.
Proses
yang dilakukan untuk menggukur tingkat kemampuan perusahaan PT. Telkom Semarang
dimulai dengan memetakan tujuan bisnis perusuhaan terhadap COBIT 5 Enterprise Goals, dilanjutkan dengan
memetakan pada IT-Related Goals dan
di petakan lagi kedalam COBIT 5 Process.
Balanced Scorcard Dimension (BSC) diadobsi kemudian disesuaikan oleh COBIT dalam penentuan Enterprise Goals dan IT-related
Goals[3].
Berdasarkan analisi terhadap
visi, misi dan inisiatif strategi PT. Telkom Semarang yang ditetapkan
berdasarkan keputusan Komisaris PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk No.09/KEP/DK/2012
pada tanggal 30 Mei 2012. Perspektif financial
BSC dimana perusahaan yang melakukan beberapa investasi terhadap produk dan
layanan yang dapat bersaing, yang
kemudian selaras dengan analisis terhadap misi yang menyediakan layanan TIMES (Telecommunication, Information, Media, Edutainment and Services) yang berkualitias
tinggi dengan harga yang kompetitif dan inisiatif strategi dimana perusahaan berinvestasi terhadap layanan teknologi
informasi, bisnis media dan edutainment,
bisnis wholesale dan peluang bisnis
internasional yang strategis serta penyempuranaan beban biaya dengan
mengintegrasikan Next Generetion Network (NGN) dan Operational support sysem, Business support
system, Customer support system dan
Enterprise relations management (OBCE).
Pelayanan
bisnis yang tersedia secara terus menerus terdahap pelanggan perusahaan yang
termasuk dalam perspektif customers BSC
Enterprise Goals. Tujuan perusahaan untuk menjadi model pengelolaan
korporasi terbaik di Indonesia serta inisiatif strategi untuk menjadi pusat
keunggulan dibidangnya, perusahaan memberikan pelayanan terbaik secara terus
menerus (berkesinambungan) dan tersedia dalam bergai macam variasi layanan dan
produk yang ditawarkan oleh perusahaan terhadap pelanggan.
Perspektif
internal BSC Enterprise Goals tentang
pengoptimalisasian dari fungsionalitas proses bisnis terkait inisiatif strategi
terhadap penyelarasan struktur bisnis dan pengelolaan portofolio. Dimana dalam
meningkatkan fungsi bagian internal perusahaan terkait produk dan layan serta
SDM, untuk dapat menyelaraskan struktur bisnis perusahaan dengan pengelolaan
portofolianya. Juga, perusahaan memaksimalkan nilai aset di bisnis yang saling
terkait untuk mendukung proses penyelarasan tersebut.
Perspektif yang terakhir adalah
perspektif learning and growth BSC
Enterprise Goals, ketiga perspektif sebelumnya hanya akan dapat dicapai
dengan baik jika perusahaan memiliki kualitas SDM yang kompeten dan didukung
oleh iklim organisasi yang kondusif. Product
and business innovation culture seleras dengan inisiatif strategi tentang
memaksimalkan nilai aset dalam hal ini SDM yang memberikan ide-ide terhadap
inovasi bisnis (produk dan layanan) dalam perusahaan serta budaya organisasi
yang terus dioptimalkan untuk dapat mempertahankan dan mengembangkan bisnis
perusahaan.
Perfektif yang terpilih dapat
di lihat pada gambar 1 dengan lingkaran merah dibawah ini:
Gambar 1. Pemetaan tujuan
bisnis kedalam COBIT 5 Enterprise Goals (Sumber: ISACA, 2012)
Pemetaan tujuan bisnis PT.
Telkom Semarang kedalam COBIT 5 Enterprise
Goals terangkum dan dapat dilihat pada table 2 berikut ini:
Tabel 1. Rangkuman pemetaan tujuan bisnis kedalam COBIT 5 Enterprise Goals
Tujuan bisnis Perusahaan
|
No
|
COBIT5 Enterprise
Goals
|
BSC
|
Relations
|
||||||||
Dimension
|
||||||||||||
Menyediakan
|
layanan
|
2
|
Portfolio
|
of
|
competitive
|
Financial
|
Primary
|
|||||
“TIMES”
|
yang
|
berkualitas
|
products and services
|
|||||||||
tinggi
|
dengan
|
harga
yang
|
||||||||||
kompetitif. Menjadi
|
model
|
|||||||||||
pengelolaan
|
korporasi
|
|||||||||||
terbaik
di Indonesia. Pusat
|
7
|
Business
|
service
|
Customer
|
Primary
|
|||||||
Keunggulan,
|
berinvestasi
|
continuity and availability
|
||||||||||
(service
and business),
|
||||||||||||
mengintegrasikan
|
“NGN”
|
|||||||||||
“OBCE”
|
untuk
|
mencapai
|
||||||||||
penyempurnaan
|
biaya
|
|||||||||||
11
|
Optimisation
|
of
|
business
|
Internal
|
Primary
|
|||||||
kemudian
memaksimalkan
|
process functionality
|
|||||||||||
nilai
|
aset
|
dibisnis
|
yang
|
|||||||||
saling
|
terakit.
|
|||||||||||
Menyelaraskan
|
struktur
|
|||||||||||
organisasi
|
dan
|
17
|
Product
|
and
|
business
|
Learning
|
Primary
|
|||||
pengelolaan portofolio
|
innovation culture
|
and
|
||||||||||
Growth
|
||||||||||||
Gambar 2. Pemetaan COBIT 5 Enterprise Goals kedalam IT-Related
Goals (Sumber: ISACA, 2012)
Kemudian dilanjutkan dengan
pemetaan kedalam IT-Related Goals
dari COBIT 5 Enterprise Goals Gambar 2. Seperti pemetaan yang dilakukan pada hubungan yang sama antara tujuan bisnis
perusahaan dengan COBIT 5 Enterprise Goals. Adanya keterkaitan yang dominan
secara objek antara COBIT 5 Enterprise
Goals dengan IT-realted Goals
yang ditandai dengan simbol P (primary
key), terdapat juga simbol S (secondary
key) yang terkait namun tidak dominan sehinggah tidak dipilih.
Tahap selanjutnya adalah memetakan IT-Related Goals kedalam proses COBIT 5. Sama halnya dengan
pemetaan Enterprise Goals kedalam IT-Related Goals, proses COBIT 5 juga
menggunkana primary key (P) sebagai
patokan. Dapat dilihat pada gambar
dibawa ini
Bedasarkan hasil pemetaan
proses COBIT 5 gambar 3 dapat dilihat bahwa 36 domain telah teridentifikasi
dari 37 domain, namun fokus dari penelitian ini adalah tentang evaluasi kinerja
penerapan sistem informasi Starclik terhadap tata kelola teknologi informasi di
PT. Telkom Semarang dipililah domain MEA01 (MEA01.01, MEA01.02, MEA01.03,
MEA01.04, MEA01.05), MEA02 (MEA02.01, MEA02.02, MEA02.03, MEA02.04, MEA02.05,
MEA02.06, MEA02.07, MEA02.08) dan MEA03 (MEA03.01, MEA03.02, MEA03.03,
MEA03.04) sebagai acuan penelitian dan juga berdasarkan hasil wawancara dengan
dengan pihak perusahaan yang bertanggung jawab langsung terhadap aplikasi
Starclick yang terangkum dalam tabel 2 dibawah ini:
Tabel 2. Pemetaan proses COBIT
5 yang teridentifikasi terhadap permasalahan
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi, maka
diperoleh kondisi existing penerapan
aplikasi Starclick pada PT.
Telkom Cabang Semarang berdasarkan domain MEA (Monitoring, Evaluate, and Assess) adalah
sebagai berikut:
Proses
MEA01, monitor, evaluate and assess
performance and conformance telah mencapai level 2 manage process kategori largely achieved dengan nilai 83% pada
tabel 3.
Secara
umum perusahaan sudah melakukan semua monitoring, evaluasi dan pengukuran
kinerja serta kesesuaian terhadap penerapan aplikasi Starclick telah dilakukan
dengan baik, namun masih belum konsisten dikarenakan penerapan aplikasi belum
secara menyeluruh oleh perusahaan. Aplikasi masih berada dalam masa percobaan (testing) yang menjadikan pelaporan
kurang sistematis
Tabel 3. Penilaian level
kapabilitas MEA01
Proses
MEA02, monitor, evaluate and assess the
system of the internal control dapat mencapai level 2 manage process dengan
kategori fully achieved dan nilai 96%
pada tabel 4.
Secara umum perusahaan sudah
melakukan semua aktivitas monitoring, evaluasi dan pengukuran sistem dari
pengendalian internal terhadap penerapan aplikasi Starclick dengan baik, namun
masih terdapat kekurangan dalam dokumentasi hasil pengendalian internal
dikarenakan SOP untuk aplikasi Starclick masih belum lengkap. SOP sendiri dalam
tahap pengembangan melihat tindak lanjut dari hasil penggunaan aplikasi dalam
jangka waktu yang telah ditentukan bersama dengan pihak penyedia.
Tabel 4. Penilaian level
kapabilitas MEA02
Proses
MEA03, monitor, evaluate and assess
compliance with external requirement dapat mencapai level 2 manage process kategori fully
achieved dengan nilai 88% pada tabel 5.
Secara umum perusahaan sudah
melakukan monitoring, evaluasi dan pengukuran kecocokan dengan kebutuhan
eksternal/luar dari penerapan aplikasi Starclick namun masih banyak kebijakan
yang belum dilakukan dikarenakan belum semua karyawan memahami prosedur dan
kebijakan penerapan aplikasi Starclick secara menyeluruh. Telah dilakukan
pelatihan terhadap karyawan tentang prosedur dan penerapannya akan tetapi
pelatihan tidak dilakukan secara berkala sering dengan berkembanganya
penyesuaian aplikasi yang menyebabkan user dan sistem tidak berjalan
beriringan.
Tabel 5. Penilaian level
kapabilitas MEA03
Setelah dilakukan pengumpulan
data dengan menggunakan wawancara, maka tahapan selanjutnya adalah melakukan
perhitungan tingkat kapabilitas dengan cara merekap hasil yang telah diperoleh dari
wawancara dan ditentukan level dari tiap subdomain dengan cara pembulatan.
Sedangkan berdasarkan hasil wawancara dengangan Senior Manager Customer Care and Marketing ibu Fera Pebrayaenti,
disepakati bahwa target level kapabilitas yang diharapkan adalah pada level 3. Berikut ini adalah tabel 6 hasil
dari rekapitulasi nilai proses dan gap
pada doman MEA (Monitoring, Evaluate, and
Asses).
Tabel 6. Pengukuran dan
Identifikasi Kababilitas Target Level dan Gap
|
||||||||||||
Sub
|
Level
hasil
|
Rating
|
||||||||||
Keterangan Domain
|
by
|
Gap
|
||||||||||
Domain
|
Pengukuran
|
|||||||||||
Criteria
|
||||||||||||
MEA01
|
Monitor,
|
evaluate
|
and
|
assess
|
1,83
|
L
|
1,17
|
|||||
performance and conformance
|
||||||||||||
MEA02
|
Monitor, evaluate and assess
the
|
1,96
|
F
|
1,04
|
||||||||
system of internal control.
|
||||||||||||
MEA03
|
Monitor,
|
evaluate
|
and
|
assess
|
||||||||
compliance
|
with
|
external
|
1,88
|
F
|
1,12
|
|||||||
requirements
|
||||||||||||
Berdasarkan tingkat kapabilitas
yang diperoleh pada tabel di atas, dilakukan pembulatan untuk memudahkan
mencari kondisi terkini dengan melihat kriteria tingkat kapabilitas yang
ditetapkan. Pada pembulatan tersebut, digunakan konsep penentuan capability process, yaitu suatu proses
pencapaian level k jika semua output
sebelum level k terpenuhi secara fully
achieved dan semua output di
level k telah berada pada kategori largely
(>50% hingga 85%) atau fully achieved (>85%).
Pada penelitian ini dipilih kategori pemenuhan secara largely dan fully achieved dengan
nilai >50% dan >85%, yang
dirasa lebih akurat dalam menilai atau menggambarkan kondisi existin. Adapun proses perhitungan untuk
mengetahui besarnya rata-rata capability
level yang telah dicapai dengan rumus perhitungan rata-rata adalah dengan
rumus sebagai berikut:
Keterangan rumus :
Yn (y0...y5) : Jumlah proses yang berada di level n
Z : Jumlah proses yang
dievaluasi
Perhitungan capability level pada penerapan
Starclick pada PT. Telkom Cabang Semarang diperoleh nilai rata-rata capability level process 1,89 dan
memiliki gap sebesar 1,11 untuk
mencapai target 3.00 sebagai implementasi target penerapan Starclick pada PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk
Semarang.
Berdasarkan hasil perhitungan
tingkat kapabilitas proses dan temuan terhadap kondisi existing, maka dapat diberikan rekomendasi secara umum terhadap
penerapan aplikasi Starclick pada PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk Semarang
dalam rangka mencapai tingkat kapabilitas ke level 3.00 antara lain: Perusahaan
melakukan analisis kebutuhan terhadap proses dan aktivitas yang akan dilakukan
terkait dengan penerapan aplikasi Starclick. Perusahaan melakukan monitoring
dan evaluasi yang tepat terhadap proses bisnis untuk mengoptimalkan proses
penerapan aplikasi Starclick secara menyeluruh.
Perusahaan mengelola setiap
prosedur dan aktivitas dengan lebih baik lagi sesuai dengan kebijakan yang
telah ditetapkan. Perusahaan melakukan otomatisasi pada beberapa
pendokumentasian aktivitas pada proses penerapan aplikasi Starclick. Perusahaan
meningkatkan kesadaran para karyawan terhadap setiap kebijakan yang telah
ditetapkan terkait dengan penerapan aplikasi Starclick dengan cara memberikan
sosialisasi dan pelatihan kepada setiap karyawan secara berkala seiring dengan
berkembangnya aplikasi.
KESIMPULAN :
Berdasarkan perhitungan dan
hasil wawancara tentang eveluasi kinerja tata kelola teknologi informasi
terhadap penerapan sistema informasi Startclick di PT Telekomunikasi Indonesia,
Tbk. Semarang maka dapatlah di ambil kesimpulan bahwa tingkat kapabilitas level
rata-rata adalah 1,89 yaitu level manage
process kategori fully achive
(>85%). Tingkat kapabilitas yang di ukur pada tahap ini telah di kelola
dengan baik mancangkup perencanaan, monitoring dan penyesuaian baik internal
maupun eksternal. Perusahaan masih harus memenuhi level 3 established process kategori fully achive atau lagery achive agar dapat memenuhi target yang di harapkan
berdasarkan rekomendasi-rekomendasi yang telah di paparkan, oleh sebab itu
melalui hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan salah satu cara untuk
melihat sudah di level mana kemampuan tata kelola TI terhadap perapan SI
Starclick di perusahaan PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk. Semarang dan
kedepannya dapat lebih meningkatkan kinerja TI terhadap SI diperusahaan agar
tujuan perusahaan dapat tercapai dan terus melakukan perbaikan-perbaikan dalam tata
kelola TI.
REFERENSI :
[1]
D.
Ciptaningrum, E. Nugroho, D. Adhipta, 2015, Audit
Keamanan Sistem Informasi Pada Kantor Pemerintah Kota Yogyakarta Menggunakan Cobit 5, ISSN: 2089-9815.
[2]
R.
Wakhidah, Y.S. Gondokaryono, Y. Rosmansyah, 2015, Tata Kelola Keamanan Informasi Pada Area Transmisi PT Pln (Persero)
P3B Jawa Bali Menggunakan COBIT 5 Dan
ISO/IEC 27001:2013.
[3]
ISACA,
2012. COBIT® 5 Framework. Rolling
Meadows: ISACA.
[4]
PT.
Telekomunikasi Indonesia. 2016. Profil Perusahaan, Tujuan, Visi dan Misi,
http://www.telkom.co.id/ (19 September 2016).
[5]
VAN
GREMBERGEN, W. 2003. Introduction to the minitrack "IT
governance and its mechanisms" HICSS 2003.
[6]
Weill,
P., Ross, W. J., and Robertson, D. C., 2006, Enterprise Architecture as Strategy, Massachusetts: Harvard
Business School Press.
[7]
Bungin,
Burhan. 2001. Metode Penelitian
Kualitatif. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
[8]
ISACA,
2012. COBIT® 5 Implementation. Rolling Meadows: ISACA.
[9]
ISACA,
2012. COBIT® 5 Enabling Processes. Rolling Meadows: ISACA.
[10]
R.
Ayunigdiah, 2015, Pengukuran Tingkat
Kapabilitas Tata Kelola TI Menggunakan Kerangka Kerja COBIT 5 (Studi Kasus: PT.
PDA Net Kota Cirebon).








Tidak ada komentar:
Posting Komentar